sasono tagged posts

Hiburan Edukatif, Dwi Sasono

Tama berdalih banyak buku saat ini dengan buatnya kurang menarik sehingga membuatnya malas membaca. “Novel zaman sekarang hanya gitu aja, tidak ada perkembangannya. Berada di rumah di kurun waktu yang panjang tentu membuat orang-orang jenuh. Itu memiliki waktu luang kian banyak karena tak menghabiskan waktu di perjalanan / beraktivitas padat di pendatang rumah. Yulfitra mengakui punya banyak siswa yang belum mengenal huruf dan suku kata. Namun, sejak digunakannya buku besar, pemahaman siswa akan huruf dan puak kata bahkan kata lebih cepat difahami. Karena itu, Hariyono mengatakan keberadaan perpustakaan Bung Karno ini menjadi sebuah keniscayaan bagi tingkatan penerus bangsa untuk merawat dan mengembangkannya.

Terakhir, mereka diajak menemukan data, bukti, dan fakta dalam uni berita. Membaca perlu digalakkan kembali, termasuk dibidang petunjuk. Di beberapa sekolah, menduga lima belas menit pra memulai pembelajaran telah dijalani.

Lepas, jika seseorang ingin menduga buku dan tak punya uang untuk membelinya, ia pergi ke perpustakaan. Orang2 dari kalangan akademisi mengatasi informasi yang akurat dengan membaca buku. Pada waktu tertentu, perpustakaan menjadi tempat berkumpul bagi banyak orang2, bukan hanya ‘’kutu buku’’. Orang-orang mencari hiburan secara membaca buku-buku serial, sebagaimana cerita silat Kho Ping Hoo, komik, dan sebagainya. “Mudah-mudahan ke depan lektur di perpustakaan ini bukan hanya dibaca disini.

Karena, tak mungkin generasi penerus bangsa mengenal dan mengembangkan paham Bung Karno dan suara pendiri bangsa lainnya bahwa tidak membaca buku. BLITAR — Wakil Kepala Tubuh Pembinaan Ideologi Pancasila Prof Hariyono mengatakan, jika generasi penerus bangsa ingin meniru dan meneladani Presiden RI pertama Sukarno atau Bung Karno, maka harus mencerap buku. Karena, sejak usia muda Bung Karno sudah mengenal pemikiran-pemikiran besar dunia maupun pemikiran luhur daripada bangsa sendiri melalui membaca buku.

Jadi tidak hanya orang Blitar saja yang bisa mengakses pemikiran Bung Karno, tetapi masyarakat seluruh Indonesia & masyarakat dunia, ” kata Hariyono. Mereka bisa diajak membaca cerita yang sedang banyak mengandung gambar; olehkarena itu mereka cenderung lebih mudah diajak berimajinasi dengan pelan. Setelah membaca, mereka diminta menceritakan kembali isi cerita dengan bahasa sendiri. Mencerap dengan cermat juga menghasilkan siswa bisa lebih berpikir kritis, tidak menelan sama sekali informasi yang dibaca. Siswa perlu dilatih untuk mencoba suatu bacaan, terutama di dalam informasi yang disampaikan lewat berita. Informasi dalam satu buah berita sangat rawan diselewengkan, disusupi informasi yang mengacau, bahkan mengandung fitnah & ujaran kebencian. Saat mencerap berita, mereka juga mampu diajak untuk melihat apakah sumber berita itu kredibel dan terpercaya.

Agar kegiatan membaca bertambah bermakna, di sekolah dapat dilakukan kegiatan lain untuk mendukung kegiatan membaca, senyampang membuat resensi atau ulasan buku. Resensi atau ulasan buku, yang berisi opini siswa tentang suatu buku dan sinopsis buku tersebut, mau tidak mau menghasilkan mereka membaca. Pasti lah, tugas meresensi perlu disesuaikan dengan tingkatan siswa. Menulis ulasan buku tampaknya lebih pas dilatihkan pada siswa tingkat merentangi, yaitu SMP dan SMA. Sikap ogah baca buku ternyata juga menghinggapi Prastama Surya Nirwangga siswa Kelas XI Ismail SMA ABBS Solo.

Read More