bedah tagged posts

Bedah lektur Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal

Ada bacaan atau karya yang terus saya ingat, tapi ada juga nun terlupakan. Menariknya, bacaan dengan saya lupakan ternyata bukan benar-benar saya lupakan.

Seluruh buku yang tersedia pada Mizanstore. com rata-rata minimal lebih murah 15% daripada harga yang biasa engkau temukan di toko lektur konvensional. Diskon tambahan saja dapat berlaku apabila terjumpa pre order, promo dibanding penerbit, dan promo nun diadakan Mizanstore. com.

Lepas, jika seseorang ingin menduga buku dan tak memiliki uang untuk membelinya, ia pergi ke perpustakaan. Orang2 dari kalangan akademisi mengatasi informasi yang akurat secara membaca buku. Pada era tertentu, perpustakaan menjadi teritori berkumpul bagi banyak orang-orang, bukan hanya ‘’kutu buku’’. Orang-orang mencari hiburan dengan membaca buku-buku serial, seperti cerita silat Kho Ping Hoo, komik, dan sebagainya. “Mudah-mudahan ke depan buku di perpustakaan ini tak hanya dibaca di sini.

Warkop yang acap saya kunjungi syaratnya tidak terlalu ramai pengunjung serta tidak menyetel musik keras-keras. Kesenian Betawi, yang mulanya disebut barongan ini kerap kali mengundang orang-orang yang lewat untuk berhenti pirsa lenggak-lenggok dari kedua boneka. Dulu, ondel-ondel selalu dilibatkan dalam acara yang bertujuan mengusir bala bencana, tergolong wabah. Tak heran, ondel-ondel sering disebut sebagai boneka penolak bala. Bagi orang2 Indonesia, perihal pakaian bukan cuma menjadi sekedar selesai aurat, tetapi juga jadi pelambangan status sosial-ekonomi apalagi politik.

Apalagi, di perihal lalu, Kompeni menciptakan pencitraan kekuasaan melalui pakaian, yakni membedakan pakaian mereka beserta kaum bumiputra. Dalam tahap penyempurnaan kesenian gotong domba, beberapa warga menciptakan musik-musik dan tarian khas yang mengiringinya. Musiknya dinamakan kawihan, yang terdiri dari dog-dog, kendang, gong dan simbal. Alat musik tambahan berbentuk terompet, serta diiringi sama seorang sinden. Tak hanya itu, pementasan kesenian dengan biasanya hanya menunggu Agustusan, kini juga digunakan dalam acara khitanan anak-anak. Demi membangkitkan kecintaan budaya Indonesia, Fandy Hutari mengemasnya lewat buku Hiburan Masa Kemudian dan Tradisi Lokal.

Ketika menulis dongeng beberapa tahun lalu, saya menggunakan kicauan “beberapa tombak” atau “sepelemparan batu” untuk menandai reses. Saya menjadi guru selama masa lebih dari dua tahun di sekolah yang bertanding dengan Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat. Beberapa kali saya berkunjung ke perpustakaan tersebut kalau tidak ada jam menggurui di sekolah. Di Pontianak saya suka ngopi dalam warung-warung kopi sederhana di tepi jalan. Selama hampir lima tahun tinggal di sini, saya akrab secara tidak kurang dari sepuluh warkop.

Read More